Tampilkan postingan dengan label Novel Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Fantasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

[Resensi Novel Fantasy] The Hunger Games by Suzanne Collins

Sadis!
Read in January, 2012, read count: 1

Rating: 3,5 out of 5 star



Judul: The Hunger Games (Buku #1)
Pengarang: Suzanne Collins

Penerjemah: Hetih Rusli

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Genre: Fantasy
Tebal: 408 hlm

Harga: Rp58.000

Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

ISBN: 978-979-22-5075-6


Summary

Katniss Everdeen sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya tewas kecelakaan di tambang batu bara distriknya dan sang ibu yang terus menerus bergelung dalam kesedihan sehingga ia kehilangan kepercayaan padanya. Bersama sahabat karibnya, Gale, ia berburu ke hutan yang merupakan zona terlarang demi menghidupi keluarganya, ibu dan Prim, adik yang sangat disayanginya. Tiap tahun negara Panem menyelenggarakan sebuah acara reality show bertajuk Hunger Games dengan masing-masing dua peserta dari 12 distrik yang ada. Hunger Games adalah permainan maut. Peserta ditempatkan pada suatu lokasi dan dibiarkan saling bertarung hingga tersisa peserta akhir yang menjadi pemenang. Secara tak terduga, tahun ini nama Prim terpilih untuk mewakili distrik 12. Tentu saja, Katniss tak rela adiknya yang rapuh terlibat permainan mematikan itu, maka dengan sebongkah keberanian terakhir yang dimilikinya ia mengajukan diri untuk menggantikan Prim. Sejak saat itu, kehidupannya berubah total. Bersama dengan Peeta, peserta laki-laki dari distrik 12, Katniss merelakan dirinya berjibaku dalam Hunger Games yang dari waktu ke waktu direkam kamera dan disiarkan ke seantero negara. Brehasilkah upaya Katniss mengalahkan 22 peserta dari distrik lainnya? Apakah pada akhirnya dia juga harus berhadapan dengan Peeta? Apakah ia sanggup menembakkan anak panahnya tepat ke jantung Peeta, yang baru diingatnya pernah menyelamatkannya itu di masa-masa sulitnya dulu dan getaran aneh di hatinya setiap berdekatan dengannya? Apakah ciuman yang mereka lakukan hanya sekadar akting? Ikutilah pergolakan lahir-batin Katniss melalui petualangan hidup dan mati dalam buku kesatu dari serial Hunger Games karya Suzanne Collins ini.


Fiuhhh, akhirnya berhasil juga merampungkan-baca novel ini. Tak diragukan lagi, di antara teman-teman Goodreads Indonesia dan Blogger Buku Indonesia (khususnya pencinta kisah fantasy), buku ini adalah salah satu buku fantasy favorit. Dan dengan segala hype-nya menjelang rilis versi filmnya di bulan Maret mendatang, buku ini kembali mengemuka. Meskipun, di saat saya mencomot buku ini, saya memperolehnya dengan diskon 70%. OMG! Shocking, right? Buku yang masih begitu popular malah sudah masuk kotak obralan. Lucky me, donk! Hahahaha.

Sampul
Hmm. Kita mulai dari sampulnya ya. Aku bukan seseorang yang pandai menilai sesuatu yang kreatif menyangkut gambar, walaupun di masa kanak-kanak dulu aku begitu tergila-gila dengan kegiatan menggambar. God, but... I do love the cover of this book. Definitely stunning. Cukup dengan logo pin mockingjay yang juga menjadi ikon di sepanjang cerita dan diemboss di sampul depannya. Bagus. Latar warna hitam yang memenuhi sampulnya juga menonjolkan pin tersebut, ditambah aksen abstrak di sekitarnya (yang tak kuketahui apa maknanya, hahaha). Bagiku yang agak kurang menarik adalah font yang digunakan untuk menuliskan judul dan nama pengarangnya. Entahlah, too simple. Memang futuristik dan berkarakter kuat, disesuaikan dengan intensitas ketegangan yang ada di sepanjang cerita, tapi... tetap, bagiku kurang begitu “nyeni” hahaha. Dan, thankyou karena keterangan award dari buku ini tidak dipampang besar-besar. Kecil, namun tetap dapat terbaca dengan jelas.

Sedangkan, untuk sampul belakangnya. Tagline-nya cukup mengena, “Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat.” Wew, sudah jelas, di benak langsung terlintas semacam action games berdarah-darah yang menegangkan. Jempol. Yang agak menyulitkan adalah jenis warna yang digunakan untuk menuliskan sinopsisnya. Bagiku pribadi, itu kurang cerah dan tenggelam dalam warna latar hitamnya. Jadi, buku ini hanya dijual dengan penerangan cukup, biar sinopsis bisa terbaca. Jangan coba-coba menjual/membelinya di black market karena akan sulit membaca kata-katanya. Hahaha. Overall, setengah bintang untuk sampulnya. Btw, pin mockingjay-nya pengen punya, euy! Di IndoHungerGames ada jual nggak, ya?

Karakter
Siapa yang sudah membaca dan menemukan ada kegoyahan pada tiap karakter di buku ini? Kalau aku sih, cukup puas dengan hampir semua karakternya. Terkadang ketika membaca novel, ada saja karakter yang tertukar-tukar dalam perspektifku. Tapi, aku tidak mengalaminya di sini. Aku bisa membedakan masing-masing karakaternya. Katniss, Peeta, Gale, Haymitch, Effie, Prim, Cinna, bahkan Madge. Meskipun beberapa karakter figuran juga sulit dirasa karena memang tidak ditampilkan secara gamblang. Gelagat gelisah Katniss, sikap acuh tak acuh Peeta, dan ketulusan Rue adalah yang paling membekas di ingatanku. Meskipun Gale juga menggoreskan kenangan tak terlupakan karena dia lah yang membuat Katniss terlihat sedemikian tangguh. Semoga di buku kedua, Gale lebih banyak porsinya. Dari sini, maka satu bintang kusematkan pada departemen karakter.

Cerita
Jangan anggap serius kisah novel ini. Namanya juga buku fantasy, kalau jadinya seliar ini ya, nggak papa, kan? Bahkan ketika ditanya teman tentang buku ini dan kuberitahukan garis besar isi buku, si teman mengingatkan, “Jangan sering-sering baca buku begituan, ya?” ups, aku jadi agak kesentil juga. Namun, sejak mula, aku memang sudah menetapkan, selain kitab suci dan buku keagamaan, buku-buku umum yang kubaca adalah sebatas hiburan dan media penggalian informasi. Maka, segala hal apapun, seliar apa pun, aku tetap bisa menyaringnya dan bilang, “Oh, ini cuman cerita, kok!”

Benar kata teman-teman yang sudah baca. Buku ini memang sadis. Entah terpengaruh budaya permisif yang mulai makin tak terkendali ataukah para penikmat seni sudah jenuh dengan yang biasa-biasa saja. Kesadisan dan nudisme tidak hanya menggejala di buku cerita. Coba tengok saja film-film serial yang bisa tayang di televisi untuk konsumsi umum, adegan telanjang atau bacok-bacokan sudah biasa. Darah muncrat dengan organ tubuh robek bukan lagi adegan yang perlu disamarkan. Semua serba diperlihatkan. Saya masih geleng-geleng kepala kalau melihat ulang serial True Blood. Fiuuhhh, kipas-kipas, deh! Jadi, kesadisan di buku ini pun tak lagi perlu dipermasalahkan, cukup dipahami bahwa ini memang untuk kepentingan jalan cerita.

Terkadang aku masih merasakan keengganan pengarang untuk menonjolkan tokoh utama. Beberapa tokoh sekutu yang terlibat secara emosional dengan tokoh utama dibuat sengsara tidak melalui keterlibatan tokoh utama secara langsung. Pertarungan juga terkesan minim, meskipun aku tak terganggu, karena petualangan Katniss untuk bertahan hidup di sepanjang cerita sudah begitu mengenaskan. Aku juga bersyukur beberapa peserta dibuat tewas dengan tanpa melibatkan tokoh utama. Meskipun inti cerita mirip film-film kompetisi tarung seperti di film-film murah Van Damme yang dulu sempat booming, satu bintang tetap kuberikan untuk ide ceritanya.

Setting dan kelengkapan cerita
Sepanjang membaca aku mencoba larut dalam logika sejauh yang bisa kutangkap. Aku masih kesulitan bagaimana (dalam keterbatasan pengetahuan soal produksi film) tim penyelenggara Hunger Games mengatur posisi kamera pada keseluruhan setting sehingga bisa menangkap setiap ekspresi. Apakah lokasi pertarungan di ibukota negara Panem, Capitol, ini serupa kota dalam kaca yang ada remote control-nya? Aku mencoba membayangkan setting fantastis yang pasti rumit. Hmm, aku tidak akan menyiksa diri sendiri dengan memikirkannya, kita tunggu saja, apakah production house yang membuat filmnya (Lionsgate) sanggup menyajikan setting lokasi yang menawan.

Aku masih mencoba memvisualisasi keseluruhan setting cerita. Dan, memang berkesan futuristik bercampur dengan alam liar yang tradisional. Sudut pandang “aku” dari Katniss memang membatasi informasi yang ada (membebaskan pembaca untuk berimajinasi) namun aku jadi tak bisa menganalisis bagaimana menghadirkan alam yang dipenuhi binatang-binatang yang sudah beradaptasi dengan suhu udara yang bisa diatur, sungai yang bisa diatur, bahkan ketersediaan air yang bisa diatur. Hmm, bagaimana tetumbuhan dan hewan digambarkan sangat bagus itu di tengah setting lokasi yang seolah-olah buatan? Sekali lagi, aku bersabar menunggu setting yang dibuat tim produksi filmnya. Setengah bintang untuk setting cerita ini.

Teknis cetakan
Hmm, berikut laporan temuan typo yang sayangnya lebih dari batas toleransiku (5 buah):

(hlm. 44) ketakukan = ketakutan
(hlm. 119, 304) menujukkan = menunjukkan
(hlm. 151) berterak = berteriak
(hlm. 152-153) terdapat dialog yang kurang tanda baca petik dua (“)
(hlm. 173) sekadang = sekarang
(hlm. 176) berasa = berasal
(hlm. 246) mengelilingmu = mengelilingimu
(hlm. 263) ...yang mereka memiliki untuk.. = miliki
(hlm. 264) Aku melihat anak lelaki dari Distrik 1, Rue. Aku tidak tahu kalimat asli (dalam bahasa inggrisnya) tapi lebih baik diberikan kata sambung dan daripada diberikan tanda baca koma di antara Distrik 1 dan Rue.
(hlm. 287) kelebihan tanda baca petik dua (“) padahal belum dimulai dialog
(hlm. 293) keadaanya = keadaannya
(hlm. 397) Haymich = Haymitch

Dan beberapa lagi yang lain yang terlupa kuberikan penanda. Tapi cukuplah segitu untuk membuatku agak kecewa. Tegang memang, tapi terkadang jadi buyar karena terselip typo-typo tersebut. Dan, aku juga masih agak kecewa dengan penulisan wali kota yang tidak konsisten, kadang menggunakan kapital kadang enggak, dan tidak jelas maksudnya apa, karena tidak merujuk kata sapaan juga ketika dicetak kapital. Serta, kata kuatir. Mengapa tidak pakai khawatir, sih?

Untuk jenis font dan ukurannya pas di mataku. Nggak bikin capek. Mungkin layout akan tambah cantik jika disertai peta lokasi seperti pada beberapa buku-buku fantasy lain. Pengen bisa mengetahui batas-batas wilayah masing-masing distrik dan posisi Capitol ada di bagian mananya dari distrik yang berbeda-beda fungsinya itu.
Setengah bintang untuk teknis cetakannya.

Baiklah jika ditotal maka tiga setengah (3,5) bintang untuk buku ini. Makin penasaran untuk melanjutkan ke buku keduanya.

Selamat membaca, kawan!
----di sini kelanjutannya----

Selasa, 13 Desember 2011

Resensi Novel Fantasi Terjemahan: Once a Witch by Carolyn MacCullough

Read from November 27 to December 06, 2011, read count: 1
3,5 star...





Kerumitan dunia sihir

Bagian awal novel ini tidak memberikan sensasi kejut yang hampir membuat saya berhenti karena bosan. Apalagi dari segi kalimat per kalimatnya terasa sulit dicerna otak saya yang pas-pasan ini. Entahlah, apakah dari novel aslinya memang sulit ataukah tersebab gaya penerjemahannya. Saya tak tahu. Yang jelas, memang ada sedikit ganjalan ketika menyimak rangkaian kalimatnya. Banyak sekali adegan yang dibuat dengan kata berulang:

...meliuk-liukkan jari-jari tangannya dalam gerakan-gerakan rahasia, berkomat-kamit dalam bahasa yang hanya diketahui olehnya saja.

Liuk-liuk, jari-jari, gerakan-gerakan, komat-kamit...hmm, begitu banyak kata berulang dalam satu baris kalimat saja. Dan, hal tersebut terjadi hampir di banyak bagian novel ini. Saya jadi kepengin mengecek naskah aslinya, apakah adegan tersebut memang berulang. Just curious.

Untunglah, saya tidak jatuh dalam kebosanan yang berkelanjutan. Begitu sampai pada adegan Tamsin, Rowena, dan Alistair dipertemukan dalam satu scene, suasana mencekam dunia sihir kuno mulai menyedot perhatian saya. Dimulai dari situlah, Once a Witch menyihir saya hingga ke lembar halaman terakhirnya. Beruntung, saya memutuskan untuk membeli novel Young Adult yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Ufuk yang harganya dipotong 40% ini di Indonesia Book Fair 2011 beberapa waktu lalu.

Pada saat ini, menemukan cerita Young Adult bertema paranormal atau supranatural dengan taburan tokoh-tokoh dunia dongeng: vampir, werewolf, peri, shifter, menjadi sangat mudah. Namun, menemukan novel paranormal atau supranatural dengan racikan baru lah yang susah. Bagi saya, Carolyn berhasil menemukan ramuan baru dengan membangun sebuah dunia sihir kuno yang suram, mencekam, dan sulit ditebak bagaimana ujungnya. Meskipun tidak terlihat adanya makhluk-makhluk aneh dunia ghaib, namun beberapa unsur fantasy mampu menjaga intensitas ceritanya.

Kisah tentang penyihir ber-Talenta, perjalanan melintas waktu, perjanjian berdarah, pertarungan hidup-mati antara penyihir putih dan penyihir hitam, adalah unsur-unsur fantasy yang cukup untuk membawa imajinasi saya bergentayangan menembus batas-batas logika dan rasionalitas. Meskipun, premisnya tetaplah sama, penyihir putih dijamin menang, namun Carolyn mampu menjaga konfliknya agar ending tidak berakhir dengan mudah. Ia menyelipkan twist di sana-sini yang bikin saya gemes. Dan, saya yang sudah menyadari bahwa buku ini memiliki sekuel tidak lagi merasa canggung begitu ending dibuat menggantung.

Namun, meskipun berhasil membuat ramuan baru, toh sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Tapi, saya tak akan menghakiminya. Pada kondisi saat ini, saya cenderung mengabaikan kebaruan cerita. Apabila ketika membaca merasa menemukan sesuatu yang baru ya... “alhamdulillah ya, sesuatu banget..” tapi kalau tidak ada yang baru ya nggak papa, lha penulis dan buku yang terbit saat ini sudah jutaan, wajar saja jika ada satu-dua adegan atau bahkan benang merah yang hampir sama satu dengan yang lain. Asal tidak secara terang-terangan menjiplak saja. Di novel ini, saya kebayang serial Heroes, serial X-Men, Harry Potter, bahkan Vampire Academy. Ya sudahlah, dinikmati saja.

Tokoh Tamsin dengan mudah menarik perhatian. Dia yang diprediksikan oleh sang nenek akan menjadi yang paling kuat di antara keluarganya justru tidak terlihat tanda-tanda bahwa ia memiliki Talenta luar biasa. Di sini, bayangan saya meluncur pada sosok Harry Potter yang baru menyadari bahwa dirinya adalah seorang penyihir ketika disambangi Hagrid dan diundang bersekolah ke Hogwarts. Tamsin, meski dengan jalan yang berbeda, hampir memiliki garis nasib yang sama dengan Harry Potter, bahwa pada akhirnya dia tahu dia juga ber-Talenta. Bahkan, sesuai dengan ramalan, ia memiliki Talenta yang luar biasa yang diincar oleh sang penyihir hitam.

Karakter Gabriel sangat cocok disandingkan dengan Tamsin. Gelenyar asmara di antara mereka berhasil membumbui alur maju mundur yang disusun oleh Carolyn sehingga tak jarang menerbitkan sesimpul senyum di bibir dan keinginan untuk bilang, “ohhh...co cwittt...” dengan gaya Fitrop.

Pada akhirnya, ending menggantung memang bikin nanggung. Saya terpaksa harus menunggu buku keduanya untuk mengetahui kelanjutan kisah ini. Apakah akan semakin suram ataukah akan ada banyak sisi cerah yang dihadirkan oleh Carolyn. Dan, by the way, ini akan jadi berapa seri? Trilogi? Tetralogi? Apa banyak-logi? Semoga cukup beberapa seri saja.

Kelemahan mendasar dari novel ini, bagi saya, adalah kerumitan kalimat-kalimatnya. Termasuk gaya pengulangannya sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya. Nanti saya coba bandingkan dengan edisi bahasa Inggrisnya deh.

Konflik utama baru menyentuh beberapa karakter saja, padahal konflik tersebut berpotensi menjadi sangat besar, sebesar ancaman Voldemort bagi dunia sihir Harry Potter. Di novel ini, ancaman itu masih terbatas pada keluarga Tamsin dan beberapa karakter selingan di lingkungan mereka. Saya berharap konflik berkembang secara signifikan di buku berikutnya.

Saya sudah menyiapkan diri untuk menemukan typo ketika membaca novel ini, berdasar pengalaman membaca novel produksi penerbit ini, tapi saya tetap saja terkejut dengan jumlah temuan saya, satu strip post-it penanda typo saya habiskan untuk novel ini. Berikut adalah beberapa temuan typo tersebut:

(hlm 9, 90, 220) tanda baca titik (.) tidak ada
(hlm 16) ras = rasa
(hlm 30) menggeluyur = mengeluyur (berkeliaran = kata dasar keluyur?)
(hlm 40) terselip tanda baca (?) yang tidak perlu
(hlm 42) ...cokelat. “kesukaanmu,” kata Silda.... huruf k pada kata kesukaanmu harusnya kapital
(hlm 64) Mendadak, ibuku mendadak muncul.... redundansi kata “mendadak”
(hlm 68) seksama = saksama
(hlm 90) pertam = pertama
(hlm 121, 127) konsistensi penulisan frekuensi ke dua dan kedua (belum tahu juga sih, beda penggunaan di antara keduanya)
(hlm 126) Bagaimana kalau kita benar-benar, benar-benar hati-hati? ...redundansi kata benar-benar.
(hlm 132) Tidak, dialah mendekat dan mengajakku menarikan dansa itu. ....lebih enak terdengar jika diselipkan kata “yang” di antara kata “dialah” dan “mendekat”.
(hlm 141) bebisik = berbisik
(hlm 157) gosokkan = gosokan
(hlm 158) ...hampir terlompat keluar dari kulitku saat sesuatu berbisik di lenganku... #eh? Berbisik itu bukannya kategori indera pendengaran ya? Berbisik di kulit? Maksudnya apa?
(hlm 169) ...keberatan untuk untuk naik kereta, tapi ibuku... redundansi kata “untuk”.
(hlm 195) dipenuh = dipenuhi
(hlm 239) ...yang marah muncul ke di lengannya. ....redundansi kata “ke”.
(hlm 242) “Toh aku tidak sedang sedang menggunakan... redundansi kata sedang.
(hlm 260) mantra itu jangkauan tidak terlalu jauh. ...sebaiknya ditambahkan “nya” pada kata “jangkauan”.
(hlm 264) menengggelamkan = menenggelamkan
(hlm 280) merubah = mengubah
(hlm 292) menganggantungkannya = menggantungkannya
(hlm 302) Tam, aku ada bar di Lion’s Head. ...melihat konteks kalimat yang tidak merujuk pada kepemilikan bar tersebut, maka sebaiknya diberikan tambahan kata “di” di depan kata “bar”.
(hlm 303) Agatha terkikik-kikik sedikit, Agatha-nya kikikan khas Agatha dengan dua nada tinggi.... kalimat ini rancu, saya tak paham maksudnya. Mungkin lebih baik kata “Agatha-nya” dihilangkan saja.
(hlm 309) Gabriel memberikan menanggapi dengan suara datar... lagi-lagi kalimat rancu, lebih baik dihilangkan kata “memberikan” atau mengubah kata menanggapi menjadi “tanggapan” atau “respons”.
(hlm 319) ...dan aku melempar pisau ke itu ke pojok ruangan.... redundansi kata “ke”, sebaiknya “ke” yang pertama dihilangkan.
(hlm 322) ...membuka mulutku. tak ada kata. Aku tidak... huruf t pada kata “tak” seharusnya kapital.
(hlm 337) tengah-tenah = tengah-tengah
(hlm 359) cengeramannya = cengkeramannya

Sebenarnya masih ada beberapa lagi typo setelah halaman 359 itu, namun dikarenakan persediaan post-it saya habis, saya tak lagi kuasa menandainya sehingga terlupa di mana saja typo tersebut. Cukup mengganggu, bagi saya. Karena lumayan banyak typo-nya. Dan, sudah pasti lewat dari batas toleransi typo yang saya tetapkan (5 kesalahan). Semoga saja, pada cetakan selanjutnya (jika akan dicetak ulang) atau novel lain terbitan Ufuk dapat ditingkatkan kualitas cetakannya.

Yang saya salut sih, Ufuk ini sangat memanjakan pembaca dengan memberikan keadilan bagi pembaca Indonesia untuk mendapatkan cover sesuai buku aslinya (versi lain). Hampir beberapa buku terjemahan diterbitkan dengan cover aslinya. Dan, saya kebetulan memang menyukai cover-cover novel Young Adult versi aslinya.

Baiklah, ini hanyalah sekadar review subjektif saya. Bagi Anda penyuka Young Adult, tak ada ruginya mengoleksi buku ini. Selamat membaca, kawan!
----di sini kelanjutannya----

Rabu, 10 Agustus 2011

Resensi Novel Fantasi: Stephenie Meyer - The Short Second Life of Bree Tanner

Ketika nasib telah ditentukan…



Judul: The Short Second Life of Bree Tanner (Kisah Singkat Bree Tanner)
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Hardcover
Tebal: 200 hlm
Harga: Rp65.000 (disc. 50%)
Rilis:September 2010
ISBN: 9789792261370

Bree Tanner masih terus berusaha mengingat kenangan sebelum ia akhirnya menjadi seperti sekarang, seorang vampir pengisap darah yang memiliki jadwal rutin pada malam-malam tertentu untuk berburu. Awalnya hanyalah kekosongan yang memenuhi ‘hidup’ barunya, namun semenjak bersahabat lalu makin dekat dengan Diego, dan Fred yang selalu menjadi tempatnya bersembunyi, Bree mulai menyadari ada hal lain yang perlu dikhawatirkannya ketika secara tak terencana ia dan Diego mendengar rencana busuk ketua kawanan vampir, Riley, dan perempuan yang mengubahnya menjadi vampir di sarang cinta mereka. Sampai akhirnya ia terlibat dalam sebuah pertempuran yang mempertemukannya dengan keluarga The Cullens.

Novella ini merupakan sempalan (spin-off) dari buku ketiga tetralogi fenomenal Twilight Saga, karya Stephenie Meyer. Sebagaimana disebutkannya dalam kata pengantar buku ini, Stephenie menjelaskan bahwa ia sedemikian terpikat pada sosok Bree Tanner yang sebenarnya hanya memiliki secuil peran dalam bentangan kisah Eclipse. Biasanya, dia dengan gampang mengabaikan tokoh-tokoh sekali lewat yang ia ciptakan, namun tidak pada sosok Bree Tanner, sehingga kemudian lahirlah novella ini.

Menelusuri jejak Bree cukup menghibur di tengah ketidakpastian niat Stephenie apakah ia masih akan merealisasikan rencananya untuk menuliskan kisah Twilight Saga dari sisi Edward Cullen sebagaimana pernah ia ungkapkan dulu. Bentuk buku ini yang novella juga kurasa cukup untuk sekadar ikut merasai bagaimana pergolakan batin si gadis 15 tahun yang terpaksa ikut terjun dalam pertempuran yang sama sekali tak ia pahami tujuannya itu. Selintas kisah romantis yang digulirkan penulis juga cukup memberikan warna tersendiri bagi kehidupan vampir baru yang dipenuhi nafsu memburu dan meminum darah sebanyak-banyaknya. Tak pelak, aku cukup terhibur menikmati halaman per halaman buku ini demi menunggu saat Bree akhirnya bertemu dengan kawanan The Cullens sehingga aku bisa mendapati titik persinggungan antara kisah hidup baru Bree dengan kisah panjang Bella Swan dan keluarga The Cullens.

Jujur, aku lupa pada sosok Bree Tanner dalam novel Eclipse. Yang terlintas dalam benak ketika melihat buku ini di-launching adalah sosok Riley, vampir cowok yang diperalat oleh Victoria. Tapi, ketika googling sana-sini barulah ngeh kalau Bree itu adalah si gadis kecil yang tersisa ketika pertempuran maha dahsyat antara The Cullens plus kawanan Shifters versus Victoria dan Riley berakhir dan keluarga Volturi datang ke TKP.



Meskipun tidak seratus persen, tapi aku menyukai buku ini. Aku menyukai bagaimana satu buah peristiwa dipandang dari sudut lain, oleh orang lain, dengan perasaan yang lain. Bree bukan tokoh antagonis murni, tapi kebetulan ia mendapat peran dalam kubu “si jahat” di novel Eclipse, dan aku adalah salah seorang pembaca yang mendamba bisa membaca suatu kisah yang ditulis dari PoV tokoh antagonis. Aku ingin ikut menyelami kehidupannya. Merasai segalanya sehingga terkuak alasan mengapa si tokoh itu memiliki takdir sebagai tokoh antagonis. Apakah si jahat itu sudah jahat sejak lahir ataukah ada suatu keadaan yang mengubahnya dari “si baik”menjadi si jahat. Rasanya menyenangkan bisa berenang-renang dalam kisah psikologis semacam itu.

Soal gaya menulis Stephenie atau gaya terjemahan Monica, no complain. Aku menikmatinya, itu yang utama. Plotnya sederhana, memang, karena novella ini hanyalah jembatan kecil yang dibangun Stephenie untuk membantu memahami pikiran seorang vampir baru yang masih haus darah, liar, dan tak terkendali. Letupan romansa yang ada antara Bree dan Diego juga secara mengejutkan terasa manis sekali. Nyaman rasanya melumat buku ini serupa menggigit sebutir stroberi segar yang baru dipetik. Yummy…
----di sini kelanjutannya----