Selasa, 02 Agustus 2011

Resensi Novel Teenlit: Ken Terate - Pieces of Joy

“…Kami ini laki-laki, Joy, bukan dukun. Kami nggak bisa membaca pikiran.” Ronal. (hlm. 159)



Judul: Pieces of Joy (Buku #3 - My Friends My Dreams)
Penulis: Ken Terate
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Teenlit
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: Juli 2011
ISBN: 9789792271263

Joy
Ahh, aku punya cowok? Yang benar? Serius? Aku? Si gadis buntelan pemilik ladang jerawat paling produkstif se-Indonesia? Bohong! Eh, tapi cowok itu, Stink namanya, benar-benar perhatian padaku, dan…ahhh, serius dia nembak aku. Aku tak mungkin menolaknya. Aku langsung menerimanya. Meskipun dia cowok aneh, plinplan, dan nggak jelas begitu. Sayang, dua temanku, Marcella dan Wening tak pernah bisa klop sama Stink. Teman seharusnya mendukung teman yang lain, kan? Aku yakin mereka pasti bisa menerima Stink suatu saat nanti. Entah kapan. Yang pasti harus secepatnya, karena sekarang aku selalu degdegan tiap berdekatan sama Ronal. Nah, lho? Gimana donk? Stink apa Ronal? Ronal apa Stink? Duh, jatuh cinta itu rumit, ya? Apalagi cinta pertama!

Walahhh, saya malah tak tahu kalau Ken sudah menerbitkan buku ketiga dari seri My Friends My Dreams-nya ini. Sudah pasti saya blingsatan begitu melihat novel ini ada di tumpukan new release salah satu toko buku langganan window shopping saya. Tak langsung saya beli, mengingat masih banyak tumpukan utang buku yang belum dibaca. Namun, ketika harus window shopping lagi ke toko buku, saya tak bisa menahan godaan itu. Dan, tercomotlah buku ini. Catatan buat diri sendiri: kurangi window shopping, bayar dulu utang baca buku yang sudah numpuk di lemari itu. #bahhh

Bagi saya, kisah persahabatan tiga dara SMA, Marcella-Joy-Wening selalu memikat sejak saya membaca seri pertamanya yang jadi juara tiga Lomba Penulisan Novel Teenlit beberapa tahun silam. Sejak saat itu, saya jadi fans Ken Terate. Semua bukunya, insyaAlloh, sudah saya lahap. Dan, pada setiap bukunya saya selalu tersepona. Haduhhh. Nagih banget tulisannya. #gawatttt

Oke, kali ini pun, kisahnya tetap kocak, as usual. Kalimat hiperbola, ungkapan-ungkapan pintar nan menggelitik, dan dialog yang mengalir lancar adalah segudang kepiawaian dari penulis ini. Pemilihan Joy sebagai pusat perhatian juga sangat tepat, karena sudah pasti ia memiliki sekardus cerita yang bisa dicurhatkan. Typically ABG masa kini yang ribet soal penampilan, persahabatan, dan kegalauan soal cowok. Konfliknya oke. Latar belakangnya juga oke. Bumbu penyedapnya pun tak ketinggalan, oke juga. Tak banyak penulis yang mempu menonjolkan tokoh utama dengan menjaga karakter lain tetap dapat mencuri adegan. Jelas, Marcella, Wening, Stink, dan Ronal, mampu mencitrakan dirinya masing-maisng. Tidak tenggelam oleh akting Joy yang sempurna.

Nah, apa donk yang kurang dari novel ini? Hmm, apa yaaaaa…? Kurang tebal, pastinya, hahahaha. I WANT MORE! Hehehehe. Kalau menilik bab-bab akhir sih, agak kelihatan masih bakalan ada next story, Wening, maybe, with Lantip? Hahahaha. I hope so.

Untuk typo, ada beberapa kata yang musti disesuaikan. Dan ada satu kalimat yang ketinggalan satu kata, “….masa sih kita harus melakukan hal yang sama dari ke hari?” (hlm. 121), sepertinya perlu ditambahkan kata “hari” sehingga menjadi “dari hari ke hari?”, iya, nggak, sih? Selebihnya… mulus. Good job, Ken.

1 komentar:

nayacorath mengatakan...

Nice review! Jadi pengen beli juga.. ^__^

Oh, ya.. Pengen baca-baca novel gratis lagi?
Mampir, yuk! ;)

http://nayacorath.wordpress.com

Posting Komentar