Senin, 19 Desember 2011

Resensi Novel: Satin Merah by Brahmanto Anindito & Rie Yanti

Lah, ending-nya kok kayak adegan Misteri Ilahi, yakkk?
Read from November 24 to December 18, 2011
3 out of 5 star



Judul: Satin Merah
Penulis: Brahmanto Anindito & Rie Yanti
Penyunting: Widyawati Oktavia
Proofreder: Christian Simamora & Gita Romadhona
Pewajah Sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penata Letak: Dian Novitasari
Penerbit: Gagas Media
Tebal: xiv + 314 hlm
Harga: Rp37.000
Rilis: 2010 (cet. 1)
ISBN: 978-979-780-443-5

Nindhita Irani Nadyasari, atau yang lebih akrab dipanggil Nadya, selayaknya remaja mana pun yang ingin eksistensinya diakui oleh orang-orang di sekitarnya, karena menurutnya selama ini orang-orang selalu meremehkannya, termasuk orangtuanya yang dirasanya lebih menyayangi adiknya. Melalui usaha gigihnya, siswi SMA Priangan 2 Bandung ini berhasil masuk dalam jajaran finalis Siswa Teladan se-Bandung Raya. Untuk terus melaju dalam kompetisi ini, Nadya diharuskan menyusun sebuah makalah yang akan dinilai oleh juri. Maka, keseharian Nadya selanjutnya diisi dengan petualangannya mencari ide, mengumpulkan data, dan merupakannya secara nyata dalam print out yang harus dikirim ke dewan juri. Beruntung, ia dapat terhubung langsung dengan sastrawan-sastrawan besar Sunda sebagai rujukan sumber informasinya. Namun, tentu saja, liku-liku perjuangan Nadya menyusun makalahnya itu tak selalu berjalan mulus. Bahkan selanjutnya, satu demi satu narasumber yang diwawancarainya terbunuh secara misterius. Ada apa dengan para narasumber itu? Apa hubungannya dengan teori Satin Merah yang dikembangkan oleh salah seorang sastrawan besar Sunda? Lalu, apakah akhirnya Nadya berhasil menggenggam titel Siswa Teladan se-Bandung? Temukan jawabannya di dalam novel duet Brahmanto Anindito dan Rie Yanti ini.

Wow. Wow. Speechless. Aku jelas tak sering membaca novel dengan tema unik seperti ini. Bagus. Menurutku agak menjurus psychological thriller gitu. Sebaiknya sih dibaca sekali habis, biar intensitasnya terjaga. Bagiku yang gampang ter-distract membaca dengan teknik taruh-ambil-taruh-ambil agak mengurangi ketegangannya. Ditambah lagi aku yang sudah mulai pelupa, sehingga suatu detail gampang sekali missing dan harus mengais-ngais lagi ketika meneruskan baca dan menemukan adegan yang terkoneksi dengan detail yang terlupa itu.

Jujur saja, membaca kata pengantar dari novel ini saja, aku langsung suka. Terasa benar perbedaan nuansa yang akan kudapat ketika membacanya. Dan, benar saja. meski pada awalnya sosok Nadya tak ubahnya seperti gadis SMA kebanyakan, namun nyatanya duo penulis novel ini membebaninya dengan tugas menjadi unpredictable person sepanjang cerita. Sangat terasa bagaimana unsur psikologi menjadi pengait bagi setiap adegannya. Sebagai pembaca, aku dibuat terombang-ombing dengan sikap Nadya yang labil. Terkadang manis, terkadang sinis, dan terkadang bengis. Wow.

Meskipun demikian, jangan berharap duo penulis ini menghadirkan seorang tokoh detektif yang mencoba mengurai fakta. Aku justru disuguhi emosi nyata dari pelaku. Penulis menghanyutkanku dalam dilema besar seorang Nadya yang ambisius. Aku pun dari mula sudah diperkenalkan siapa pelaku, siapa korban, dan bagaimana pelaku menghabisi korbannya. Jadi, sisi misterius itu memang tidak dibungkus sejak awal. Apa sebab? Aku nggak tahu.

Ada topik besar yang coba dihadirkan oleh duo penulis ini, sepertinya. Me? I don’t know. Hahaha. Typically, Nadya is a rich girl. Dia butuh diperhatikan. Dia menuntut keadilan. Perlakuan seimbang dari orangtuanya. Respek dari teman-teman sekolahnya. Kebanggaan dari para gurunya. Dia sudah mendapatkannya, namun dia membutuhkan lebih banyak lagi. Dia tak mau menjadi Nadya yang biasa saja. Sebagaimana tersirat dalam tagline novel ini, “aku cuma ingin jadi signifikan.”

Zaman SMA dulu, aku pernah membuat sebuah cerpen amatiran bertema pembunuhan/pemerkosaan yang dikoreksi oleh guru bahasa Indonesiaku, dan beliau mengingatkanku untuk selalu memberikan alasan rasional bagi setiap konsekuensi yang aku sematkan pada masing-masing tokoh. Dan, sedikit banyak aku dapat melihatnya di novel ini. Mengapa Nadya tumbuh menjadi remaja seperti itu. Apakah sikap Nadya itu termasuk yang impulsif ataukah memang terbentuk dari sejak ia kecil. Flashback di salah satu bagian novel ini menjawab semua pertanyaanku terkait hal itu.

Dari semuanya, yang membuatku tercengang [sayangnya, dalam arti negatif] adalah endingnya. Oh, GOD! Apakah mereka serius mengakhiri serangkaian misteri ini dengan adegan itu. Aseli, sepertinya mulutku langsung ternganga gitu dan... aku tak mau percaya bahwa penulis memilih ending yang.... ah, masak dibikin gitu sih?. Absolutely, ini unsur subjektifku. Mungkin aku harus membaca ulang lagi [nanti] untuk memecahkan misteri yang masih berputar di kepalaku, mengapa penulis memilih ending begitu? Huhuhu.

Overall, novel ini menarik. Terlepas dari mengapa pelaku begitu mudah menghabisi korban-korbannya [telah dibeberin modusnya sih], emosiku dibuat teraduk-aduk karena masih nggak percaya penulis dengan ‘tega’ mengubah tokoh utama yang awalnya lovable itu. Sebagai pembaca cerewet yang gampang nyerah disuruh menggunakan ‘logika’, aku butuh sekali banyak penjelasan atas beberapa adegan yang ada.

Oiya, aku teriak donk ya, mana unsur romantisnya? Kalau boleh berangan-angan, sepertinya akan lebih menarik jika ada sesosok kekasih di sisi tokoh utama. Bisa jadi partner in crime [jadi inget film Radit dan Jani]. Seru aja gitu [dalam bayanganku].

Typo-nya dikit, selamat ya.

Ngomong-ngomong, masih terjadi perdebatan dalam menafsir sampulnya [atau itu halusinasiku aja, ya?]. Beberapa temen bilang itu kain satin [secara judulnya satin, kan? tuhh, di sebelah contoh kain satin], tapi aku menganggapnya tetes darah yang dituang dalam air. Lagipula, Satin yang dimaksud dalam judul tidak berarti harfiah, kan?

Selamat membaca, kawan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar